Jaga Keimanan dan Tingkatkan Ketakwaan

Tiga Kunci Wujudkan Shalat yang Berkualitas

Ustadz Wandi Bustami Lc MAg

Oleh : Ustadz Wandi Bustami Lc MAg
 


اَلْحَمْدُ للّٰهِ الَّذِيْ أَمَرَناَ أَنْ نُصْلِحَ مَعِيْشَتَنَا لِنَيْلِ الرِّضَا وَالسَّعَادَةِ، وَنَقُوْمَ بِالْوَاجِبَاتِ فِيْ عِبَادَتِهِ وَتَقْوَاهُ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَهَ إِلاَّ اللّٰهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ مَنْ لَا نَبِيَّ بَعْدَهُ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الَّذِيْ أَرْسَلَهُ اللّٰهُ إِلَيْنَا شَاهِدًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا وَدَاعِيًا إِلَى اللّٰهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ المُجَاهِدِيْنَ الطَّاهِرِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ، فَيَا آيُّهَا الحَاضِرُوْنَ الكِرَامُ، أُوْصِيْكُمْ وَإِيَّايَ بِتَقْوَى اللّٰهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ 
تُفْلِحُوْنَ
قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى  فِيْ كِتَابِهِ الْكَرِيْم، بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ. يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقٰىتِهٖ وَلَا تَمُوْتُنَّ اِلَّا وَاَنْتُمْ مُّسْلِمُوْنَ ١٠٢ وَقَالَ:؟اُتْلُ مَآ اُوْحِيَ اِلَيْكَ مِنَ الْكِتٰبِ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَۗ اِنَّ الصَّلٰوةَ تَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ ۗوَلَذِكْرُ اللّٰهِ اَكْبَرُ ۗوَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ ٤٥ وَقَالَ رَسُوْلُ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ.

Kaum Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah Subhanahu Waatala.

MARILAH kita senantiasa memanjatkan puji dan rasa syukur kehadirat Allah Subhanallah Waatala. Karena sampai di hari yang mulia ini, Allah Subhanahu Waatala masih mencurahkan rahmat dan nikmat-Nya, sehingga dengan mudah kaki kita melangkah menuju masjid ini guna mengerjakan fardhu Jum’at berjamaah. Mudah-mudahan segala amal ibadah yang kita lakukan dibalas oleh Allah swt dengan surga. Amin amin ya Rabbal’alamin...

Kemudian shalawat dan salam mari selalu kita kirimkan ke arwah junjungan alam Nabi besar Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam dengan lafaz allahumma shalli ‘ala Muhammad wa ‘ala ali Muhammad,, assalamu’alaika ya Rasulullah, mudah-mudahan dengan banyak bershalawat kepada beliau kelak di akhirat kita mendapatkan syafaatnya.


Melalui mimbar yang mulia ini, khatib berpesan kepada diri khatib sendiri, dan seluruh jamaah, mari senantiasa kita menjaga keimanan dan meningkatkan ketakwaan kepada Allah Subhanahu Waatala sampai ajal menjemput. Janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim. (QS. Ali Imran [3]: 102).

Kaum Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah Subhanahu Waatala.

Seluruh amal ibadah yang dilakukan seorang mukmin merupakan tolak ukur kedekatannya kepada Allah Subhanahu Waatala. Orang yang gemar beribadah pertanda hatinya telah terpaut dengan sang Pencipta, dan sebaliknya enggan mengabdikan diri kepada-Nya sebuah isyarat jauh dari Allah swt. Salah satu ibadah yang menjadi tolak ukur dekat atau jauhnya seseorang hamba dengan Penciptanya adalah ibadah shalat.

Ibadah shalat yang ditegakkan lima waktu dalam sehari dan semalam mendatangkan ketenangan jiwa, raga dan pikiran. Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda: Ketentramanku diciptakan dalam shalat. (HR. Ahmad). Ayat demi ayat yang dilantunkan dengan merdu dengan menghadirkan qolbu saat shalat dapat menentramkan jiwa, hati dan pikiran. Betapa orang yang sedang ditimpa musibah mengadu kepada-Nya seketika menemukan jalan keluar.

Namun terkadang tidak setiap keadaan demikian, ada orang-orang yang berulang kali menegakkan shalat namun tidak mendapatkan itu semua. Shalat yang dikerjakan seakan tidak memberi dampak positif,  baik dalam perilaku, perbuatan dan keyakinan. Maka di sini muncul pertanyaan, apakah ibadah shalat tidak mampu memperbaiki itu semua?. Padahal Al Qur’an secara tegas mengatakan, “Tegakkanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar”.(QS. al-Ankabut [29]: 45).

Bila hal ini dilihat lebih jauh, maka yang salah bukan ibadah shalat, karena para ulama meraih kemuliaan berkat menjaga hubungan dengan Allah Shubhnahu Waatala melalui ibadah ini. Maka di sini yang perlu dievaluasi adalah individunya. Bisa jadi, shalat yang dilakukan jauh dari kekhusuan, masih memikirkan perkara dunia, atau bisa jadi syarat dan rukun belum terpenuhi.

Suatu ketika Rasululullah Shubhnahu  Alaihi Wasallam melihat seorang laki-laki badui mengerjakan shalat. Setelah shalat ditunaikan, beliau bersabda, “irji’ fashalli fa innaka lam tushalli (ulangi dan shalatlah, karena sesungguhnya kamu belum shalat!),” lalu kemudian laki-laki ini pun shalat kembali seperti shalat pertama, kemudian beliau bersabda, “irji’ fashalli fa innaka lam tushalli,!” hal ini berulang sampai 3 kali. Kemudian laki-laki itu pun bertanya, “Ya Rasulullah, bukankah aku sudah shalat?.” Beliau menjawab, “Apabila engkau shalat bertakbirlah, baca ayat yang paling mudah, ruku dan tuma’ninah, tegak dan sujud dan tuma’ninah”. (HR. an-Nasa’i).

Ibnu Batthal berkata, shalat yang dilakukan laki-laki ini tidak sempurna karena meninggalkan tuma’inah saat rukuk dan sujud, sementara tuma’ninah di antara kesempunaan shalat. (Syarhu Shahih al-Bukhari, 2/49).

Dari sini dapat dipahami bahwa shalat laki-laki badui tersebut tidak berkualitas, sebab tidak memperhatikan setiap gerakannya, ia ingin shalatnya cepat tuntas sehingga meninggal tuma’ninah. Maka oleh karena itu, hendaklah setiap orang berusaha mewujudkan shalat yang berkualitas.

Kaum Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah Subhanahu Waatala.

Untuk mewujudkan shalat yang berkualitas maka seseorang dapat melakukan beberapa hal, yaitu:

1.    Syarat dan Rukun Terpenuhi

Syarat dan rukun dalam suatu ibadah hukumnya wajib. Apabila salah satu dari dua poin tersebut kurang atau tidak dikerjakan maka menyebabkan kualitas ibadah rusak, bahkan bukan hanya rusak, melainkan tidak sah. Maka sebelum shalat ditegakkan, hal yang diperhatikan terlebih dahulu ialah wudhu.

Para ulama berkata:

مَا لاَ يَتِمُّ الوَاجِبُ إِلاَّ بِهِ فَهُوَ وَاجِبٌ

Perkara wajib yang tidak sempurna kecuali dengannya, maka perantara itu menjadi wajib.
Kaidah usul fikih di atas dapat dipahami bahwasanya wudhu sangat penting, sebab shalat dianggap tidak sah tanpa wudhu yang benar. Jadi, yang menjadi titik tekan bukan pada shalatnya, akan tetapi wudhu. Terkadang masih banyak dari kalangan kaum muslimin menganggap remeh, sehingga enggan belajar. Padahal bila dilihat di dalam firman Allah swt, perintah sebelum shalat ditegakkan adalah mengambil wudhu.

Allah  Subhanahu Waatala berfirman:

يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْٓا اِذَا قُمْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ فَاغْسِلُوْا وُجُوْهَكُمْ وَاَيْدِيَكُمْ اِلَى الْمَرَافِقِ وَامْسَحُوْا بِرُءُوْسِكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ اِلَى الْكَعْبَيْنِۗ وَاِنْ كُنْتُمْ جُنُبًا فَاطَّهَّرُوْاۗ ٦

Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berdiri hendak melaksanakan shalat, maka basuhlah wajahmu dan tanganmu sampai ke siku serta usaplah kepalamu dan (basuh) kedua kakimu sampai kedua mata kaki. Jika kamu dalam keadaan junub, mandilah. (QS. Al-Maidah [5]: 6).

Ibnu Katsir berkata, maksud ayat di atas ialah perintah wajib berwudhu setiap akan menegakkan shalat. (Tafsîr al-Qur’ân al-Azhîm, 3/44). Imam al-Baghawi dalam tafsirnya menukil, anjuran untuk berwudhu setiap kali shalat walau masih memiliki wudhu. (Ma’âlimu at-Tanzîl, 3/20).

Kaum Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah Subhanahu Waatala.

2.Menganggap Shalat Terakhir

Apabila setiap orang menyakini apa yang dikerjakan pada hari itu adalah pekerjaan terakhirnya tentu ia akan bersungguh-sungguh. Sebab di masa yang akan datang tidak lagi memiliki kesempatan yang sama. Agar mendapatkan kualitas shalat yang bagus, hendaknya seorang mukmin menyakini shalat yang dikerjakannya adalah shalat terakhir dalam hidupnya.

Rasulullah Shallallahu Alaihi Wasallam bersabda:

عَنْ أَبِي أَيُّوبَ الْأَنْصَارِيِّ قَالَ: جَاءَ رَجُلٌ إِلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: عِظْنِي وَأَوْجِزْ، فَقَالَ: إِذَا قُمْتَ فِي صَلَاتِكَ فَصَلِّ صَلَاةَ مُوَدِّعٍ، وَلَا تَكَلَّمْ
بِكَلَامٍ تَعْتَذِرُ مِنْهُ غَدًا.

Dari Abu Ayyub al-Anshari, berakta: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah saw lalu berkata, “Ya Rasulullah, berilah aku nasihat dan persingkatlah”, Rasulullah saw bersabda: “Jika kamu hendak melaksanakan shalat, shalatlah seperti shalat terakhir, jangan mengatakan sesuatu yang membuatmu minta maaf di kemudian hari”. (HR. Ahmad, Ibnu Majah dan Abu Daud).

Sulthan Ali Qari berkata: Jadikanlah shalatmu sebagai shalat terakhir, perbaikilah penutup amalmu, perpendeklah angan-anganmu terhadap dunia karena kemungkinan ajalmu sudah dekat. (Murqâtul Mafâtîh Syarhu Misykâtul Mashâbîh, 8/3270).

Abdulhaq ad-Dihlawi berkata: Tinggalkan segala sesuatu selain Allah swt, raihlah segala sesuatu yang mendekatkan kepada-Nya dengan sempurna dan ikhlas. (Lama’âtut Tanqîh fi Syarhi Misykâtil Mashâbîh, 8/450).
Berdasarkan riwayat dan penjelasan di atas, maka untuk mendapatkan kualitas ibadah shalat yang bagus hendaklah seseorang menjadikan setiap shalat yang dilakukan seperti shalat terakhir dalam hidupnya. Seperti shalatnya seseorang yang sudah divonis mati kemudian diberi kesempatan untuk shalat terakhir, maka tentu ia akan shalat bersungguh-sungguh.  

Kaum Muslimin Sidang Jamaah Jum’at yang Dirahmati Allah…

3. Memahami Makna Bacaan Shalat

Memahami makna setiap lafal shalat sudah semestinya mendapat perhatian serius, sebab hal itu dapat menambah keimanan kepada Allah Subhanahu Waatala. Selain itu, paham dengan makna ayat akan menambah kekhusyuan. Penguasa ulama Izzuddin Abdussalam berkata:

Sesungguhnya orang yang shalat diperintah memahami makna ayat saat membacanya. Karena ketika sampai ayat tentang janji muncul harapan untuk itu. Sebagaimana firman Allah Subhanahu Waatala. (Apakah orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dalam keadaan bersujud, berdiri, takut pada (azab) akhirat, dan mengharapkan rahmat Tuhannya?. (QS. Az-Zumar: 9). (Qawâ’idul Ahkâm fi Mashâlihil Anâm/160).


Maksud ungkapan dari ulama yang bergelar shultan ulama (penguasa ulama) ini ialah setiap orang tidak akan mendapatkan kekhusyuan dalam ibadah shalatnya bila tidak mengerti apa yang dibaca. Maka oleh karenanya, memahami makna lafal ayat atau bacaan shalat suatu yang mutlak dipelajari. Itu sebabnya, al-Qur’an mengajak untuk mentadabburi makna-maknya.

Allah Subhanahu Waatala berfirman:

اَفَلَا يَتَدَبَّرُوْنَ الْقُرْاٰنَ اَمْ عَلٰى قُلُوْبٍ اَقْفَالُهَا ٢٤

Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?. (QS. Muhammad [47]: 24).

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwasanya mewujudkan shalat yang berkualitas harus memperhatikan beberapa hal yaitu: 1) Syarat dan rukun harus terpenuhi, 2) Menjadikan shalatnya sebagai shalat terakhir, dan 3) Berusaha memahami setiap makna ayat. Apabila semua hal itu dilakukan, insya Allah Subhanahu Waatala shalat yang berkualitas akan terwujud.***


بَارَكَ اللّٰهُ لِي وَلَكُمْ فِى اْلقُرْآنِ اْلعَظِيْمِ، وَنَفَعَنِي وَإِيَّاكُمْ بِمَافِيْهِ مِنْ آيَةِ وَذِكْرِ الْحَكِيْمِ وَتَقَبَّلَ اللّٰهُ مِنَّا وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ وَإِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ العَلِيْمُ، وَأَقُوْلُ قَوْلِي هَذَا فَأسْتَغْفِرُ اللّٰهَ العَظِيْمَ إِنَّهُ هُوَ الغَفُوْرُ الرَّحِيْم


Berita Lainnya...

Tulis Komentar